Keefektifan Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Heads Together Terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa


KEEFEKTIFAN IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE NUMBER HEADS TOGETHER
TERHADAP KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR
SISWA

         Menurut Miftahul Huda (2015:24) salah satu landasan teoretis pertama tentang belajar kelompok ini berasal dari pandangan konstruktivis sosial, Vygotsky. Menurut Vygotsky, mental siswa pertama kali berkembang pada level interpersonal di mana mereka belajar menginterpretasikan dan mentransformasikan interaksi interpersonal mereka dengan orang lain, lalu pada level intra-personal di mana mereka mulai memperoleh pemahaman dan keterampilan baru hasil interaksi ini. Teori yang kedua merupakan Piaget. Menurut Piaget dalam Miftahul Huda (2015:25) konflik sosiokognitif muncul ketika siswa mulai merumuskan kembali pemahamannya akan suatu masalah yang bertentangan dengan pemahaman orang lain yang tengah berinteraksi dengannya. Saat pertentangan ini terjadi, siswa akan tertuntut untuk merelefeksikan pemahamannya sendiri, mencari informasi tambahan untuk mengklarifikasi pertentangan tersebut, dan berusaha “mendamaikan” pemahaman dan perspektifnya yang baru untuk kembali menyelesaikan inkonsistensi-inkonsistensi yang ada. Konflik kognitif, bagaimanapun, merupakan katalisator (penggerak) perubahan karena ia memotivasi siswa untuk merenungkan kembali pemahamannya
Baca Juga : Pengaruh Motivasi Mengajar terhadap Kinerja Guru

tentang suatu masalah dan berusaha mengkonstruksi pemahaman baru yang lebih sesuai dengan feedback yang mereka terima.
          Menurut Herpratiwi (2016:19) Piaget dikenal dengan teori Cognitive Development. Tiga prinsip utama pembelajaran yang dikemukakan Piaget.
a.       Belajar Aktif
Proses pembelajaran adalah proses aktif, karena pengetahuan terbentuk dari dalam subyek belajar.
b.      Belajar lewat interaksi sosial
Dalam belajar perlu diciptakan suasana yang memungkinkan terjadinya interaksi di antara subyek belajar.
c.       Belajar pengalaman sendiri
Dengan menggunakan pengalaman nyata maka perkembangan kognitif seseorang akan lebih baik daripada hanya menggunakan bahasa untuk berkomunikasi.
          Pada penelitian ini teori belajar yang digunakan adalah teori belajar Vygotsky dan Piaget.
2.      Model Pembelajaran Kooperatif
a.       Pengertian Pembelajaran Kooperatif
   Menurut Roger, dkk dalam Miftahul Huda ( 2015:29) Pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial di antara kelompok-kelompok pembelajar yang di dalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain. Sementara itu, Davidson dalam Miftahul Huda (2015:30) pembelajaran kooperatif merupakan suatu konsep yang sebenarnya sudah ada sejak dulu dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini memang dikenal sangat penting untuk meningkatkan kinerja kelompok, organisasi, dan perkumpulan manusia.
   Dengan demikian pembelajaran kooperatif merupakan suatu kegiatan pembelajaran kelompok yang pelaksanaanya siswa dituntut untuk bekerja sama agar mendapatkan kesepakatan bersama mengenai cara penyelesaian suatu masalah.
3.      Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Heads Together (NHT)
a.       PengertianPembelajaran Kooperatif Tipe Number Heads Together (NHT)
   Model pembelajaran Number Heads Together (NHT) merupakan variasi dari diskusi kelompok. Teknis pelaksanaannya hampir sama dengan diskusi kelompok. Pertama-tama, guru meminta siswa untuk duduk berkelompok-kelompok. Masing-masing anggota diberi nomor. Setelah selesai, guru memanggil nomor (baca,anggota) untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Guru tidak memberitahukan nomor berapa yang akan berpresentasi selanjutnya. Begitu seterusnya hingga semua nomor terpanggil. Pemanggilan secara acak ini akan memastikan semua siswa benar-benar terlibat dalam diskusi tersebut (Miftahul Huda, 2015:130).
b.      Teknis Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif tipe  Number Heads Together (NHT)
   Menurut Imas Kurniasih dan Berlin Sani (2017:31) teknis pelaksanaan Number Heads Together (NHT) antara lain yaitu.
1)      Siswa dibagi dalam kelompok, setiap kelompok mendapat nomor.
2)      Penugasan diberikan kepada siswa berdasarkan nomor terhadap tugas yang berangkai.
3)      Jika perlu, guru menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka.
4)      Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok lain.
5)      Setelah itu setiap kelompok menyimpulkan hasil kerja dan memperesentasikan hasilnya secara bergantian
   Setelah memahami pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan model pembelajaran Kooperatif tipe Number Heads Together(NHT) merupakan salah satu model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya harus berkelompok, siswa diberi nomor agar siswa mengerjakan tugas sesuai nomor yang diberikan oleh guru dan untuk hasil akhir siswa berdiskusi bersama untuk menentukan jawaban.
4.      Keaktifan Belajar
a.       Pengertian Keaktifan Belajar Siswa
   Menurut Euis Karwati dan Donni Juni Priansa (2014:152) keaktifan belajar yang sedang dialami oleh siswa berhubungan dengan segala aktivitas yang terjadi, baik secara fisik maupun non fisik. Keaktifan akan menciptakan situasi belajar yang aktif. Belajar yang aktif adalah suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa, baik secara fisik, mental intelektual, maupun emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut, sangat dituntut keaktifan siswa, dimana siswa adalah subjek yang banyak melakukan kegiatan, sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan. 
   Keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran (Martinis Yamin, (2007:80-81) terjadi manakala:
                                            1)      pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa;
                                            2)      guru berperan sebagai pembimbing supaya terjadi pengalaman dalam belajar;
                                            3)      tujuan kegiatan pembelajaran tercapai kemampuan minimal siswa (kompetensi dasar);
                                            4)      pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreativitas siswa, meningkatkan kemampuan minimalnya, dan mencapai siswa yang kreatif serta mampu menguasai konsep-konsep;
                                            5)      melakukan pengukuran secara kontinu dalam berbagai aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
b.      Mengembangkan Keaktifan Siswa Dalam Belajar       
   Menurut Euis Karwati dan Donni Juni Priansa (2014:152) beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru untuk mengembangkan keaktifan siswa dalam belajar adalah.
                                            1)      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkreativitas dalam proses belajarnya, sesuai dengan keinginannya.
                                            2)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengamatan, penyelidikan, dan pemahaman melalui pebelajaran inkuiri dan eksperimen.
                                            3)      Memberikan pujian verbal dan non verbal kepada siswa yang aktif mengajukan pertanyaan.
                                            4)      Menggunakan model pembelajaran multimedia sehingga siswa tertarik dan terangsang untuk belajar aktif.
c.       Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar
   Menurut Gagne dan Briggs dalam Martinis Yamin (2007:84) faktor-faktor yang dapat menumbuhkan timbulnya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut.
1)   Memberikan motivasi atau menarik perhatian siswa sehingga mereka berperan aktif dalam kegatan pembelajaran;
2)   Menjelaskan tujuan intruksional (kemampuan dasar kepada siswa);
3)   Mengingatkan kompetensi belajar kepada siswa;
4)   Memberikan stimulus (masalah, topik, dan konsep yang akan dipelajari);
5)   Memberi petunjuk kepada siswa cara mempelajarinya;
6)   Memunculkan aktivitas, partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran;
7)   Memberikan umpan balik;
8)   Melakukan tagihan-tagihan terhadap siswa berupa tes, sehingga kemampuan siswa selalu terpantau dan terukur, menyimpulkan setiap materi yang disampaikan diakhir pembelajaran.
      Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, disimpulkan bahwa keaktifan belajar siswa merupakan hal yang penting, karena dalam pembelajaran siswa yang aktif dominan memiliki rasa ingin tahu dan keberanian sehinngga dapat membuat siswa memahami materi dengan mudah dan siswa menjadi kreatif.
5.      Hasil Belajar
a.       Pengertian Hasil Belajar
   Menurut Sukmadinata dalam Euis Karwati dan Donni Juni Priansa (2014:214) hasil belajar atau Achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang.
   Howard Kingsley (Sudjana, 2005: 15) membagi 3 macam hasil belajar:
1)      Keterampilan dan kebiasaan
2)      Pengetahuan dan pengertian
3)      Sikap dan cita-cita
Pendapat dari Horward Kingsley ini menunjukkan hasil perubahan dari semua proses belajar. Hasil belajar ini akan melekat terus pada diri murid karena sudah menjadi bagian dalam kehidupan murid tersebut.
b.      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
   Menurut Syah (2008) dalam Euis Karwati dan Donni Juni Priansa (2014:219) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar peserta didik dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
(1)   Faktor Internal (Faktor dari dalam Peserta Didik)
        Meliputi aspek fisiologis dan psikologis. Aspek fisiologis berkaitan dengan jasmani siswa, sedangkan aspek psikologis berhubungan dengan rohaniah siswa. Aspek-aspek dalam ranah psikologi diantaranya intelegensi siswa, motivasi siswa.


(2)   Faktor Esternal (faktor dari luar peserta didik)
        Faktor eksternal berarti kondisi lingkungan di sekitar siswa. Faktor eksternal terdiri dari dua aspek yaitu lingkungan sosial (lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga) dan lingkungan non sosial.
(3)   Faktor Pendekatan belajar (Approach to Learning)
        Jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan peserta didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.
c.       Fungsi Hasil Belajar
               Dalam proses pembelajaran di kelas guru harus memperhatikan tingkah laku dan minat belajar siswa. Karena dengan adanya minat belajar siswa dalam dirinya maka siswa tersebut dapat dengan mudah menyerap materi pelajaran yang dipelajarinya. Sebaliknya, tanpa adanya minat dan perhatian dalam diri seseorang siswa terhadap apa yang dipelajarinya. Mereka tidak dapat menguasai materi pelajaran yang dipelajarinya itu dengan baik. Oleh karena itu, minat belajar siswa sangat perlu diperhatikan dan ditingkatkan oleh guru sebagai pendidik di sekolah karena minat belajar siswa sangat berpengaruh terhadap fungsi hasil belajar. Minat dan fungsi hasil belajar adalah indikator dari pencapaian guru akan penilaian akhir pada siswa. Jadi adapun fungsi hasil belajar siswa yaitu suatu pedalaman dan pemahaman pada materi pelajaran.
d.      Ranah Penilaian Hasil Belajar
               Menurut Nana Sudjana (2009:22) dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotoris. Namun, dalam penelitian ini penilaian hasil belajar hanya pada ranah kognitif dan afektif saja. Menurut Nana Sudjana (2009:22) ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama tersebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.
               Berdasarkan berbagai uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses belajar yang didalamnya mencakup pengenalan atau pemberian pengetahuan yang dilakukan secara berulang kali dan diharapkan mampu tersimpan dalam jangka waktu lama sehingga dapat mengubah cara berfikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik.



6.      Muatan Matematika Volume Bangun Ruang Balok
a.       Volume Bangun Ruang
                                                           1)      Pengertian Volume Bangun Ruang
             Menurut Gatot Muhsetyo, dkk (2007:6.9) Khususdalampembelajaranini kita akan mendiskusikan pengertian ukuran bangun untuk bangun ruang (berdimensi tiga). Ukuran bangun tersebut dinamakan volume (volum) atau isi. Volume adalah suatu ukuran yang menyatakan besar suatu bangun ruang. Mengukur volume berarti membandinngkan besar sesuatu dengan sesuatu yang mempunyai besar tertentu, yaitu sesuatu bangun ruang yang menjadi patokan yang disebut satuan volume (volume satuan).
             Patokan suatu volume yang dipakai sebagai ukuran suatu bangun ruang biasanya berupa bangun ruang yang lebih kecil. Biasanya untuk menenntukan volume suatu bangun kitta lakukan dengan membandinngkan bangun ruang tersebut dengan bangun ruang yang lebih kecil. Kita dapat menggunakan bangun ruang apa pun sebagai patokan satuan volume, misalnnya kubus kecil, batu bara, kelereng dan sebagainya. Volume suatu bangun ruang adalah banyaknya satuan volume yang dapat tepat mengisi bagian ruang yang ditempati oleh bangun tersebut.
b.      Bangun Ruang Balok
                                                           1)      Volume balok
Menurut Gatot Muhsetyo (2007: 6.13) volume balok sama dengan hasil perkalian dari bilangan-bilangan yang menyatakan panjang lebar dan tinggi dari balok tersebut.
                                                           2)      Jaring-jaring Balok
            Jaring-jaring balok merupakan serangkaian bentuk khusus yang dapat dilipat untuk membentuk benda berbentuk balok. Untuk contohnya perhatikan gambar jaring-jaring balok dibawah ini:





 






Gambar 2.1
Jaring-jaring Balok
7.      Penelitian Yang Relevan
   Berikut ini beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian eksperimen ini :
a)      Fika Dewi, 2016 dengan judul Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas V SD N 1 Raman Endra Tahun Pelajaran 2015/2016. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together terhadap hasil belajar siswa kelas VB pada mata pelajaran Matematika. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan dan positif padapenerapan model pembelajaran kooperatif tipe numbered head togetherterhadap hasil belajar siswa. Hal tersebut berdasarkan uji hipotesis melaluiIndependent Sample t-test yang menunjukan nilai sign 2-tailed= 0,017 < α= 0,05 dan thitung = 2,506 > ttabel = 2,028.
b)      Gusti Ayu Mas Eka Jayanti, 2014 dalam skripsinya berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe NHT terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Sekolah Dasar Gugus Letkol Wisnu Depasar Utara. Kesimpulan dari skripsi tersebut adalah hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran tipe NHT terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V sekolah dasar gugus Letkol Wisnu Peguyangan Denpasar Utara.Ini dilihat dari perbedaan nilai rata-rata kelompok eksperimen yang lebih tinggi dari nilai rata-rata kelompok kontrol. Sementara uji hipotesis dilakukan dengan uji t, dimana t hitung = 2.12 sedangkan t tabel = 2.00. Karena t hitung > t tabel maka Ha diterima, itu berarti terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V sekolah dasar Gugus Letkol Wisnu Peguyangan Denpasar Utara.
c)      Tri Nurhidayah, 2015 dengan judul Efektifitas Penggunaan Metode Numbered HeadTogether (NHT) dalam Materi Bentuk Muka Bumi yang dihasilkan olehTenaga Endogen Kelas VII SMP Negeri 2 Gatak Sukoharjo. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan nilai rata-rata pre testdan post test kelas kontrol dan kelas eksperimen. Nilai rata-rata pre test kelaskontrol sebesar 42,39, dan nilai rata-rata pos test sebesar 74,62, sedangkan nilai rataratapre test kelas eksperimen sebesar 37,73, dan nilai rata-rata post test 83,8. KKMyang di tentukan oleh sekolahan adalah 75. Hal ini menunjukkan nilai rata-ratametode Numbered Head Together (NHT) mengalami peningkatan dibandingkandengan metode konvensional (ceramah). Artinya metode Numbered Head Togetherdapat mencapai tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sebagaimanahasil uji mann-whitney post test kelas kontrol dan kelas eksperimen sebesar 0,000maka Ho di tolak sehingga ada perbedaan antara metode Numbered Head Together(NHT) dan metode konvensional (ceramah). Kesimpulanya bahwa metode NumberedHead Together (NHT) lebih efektif dibandingkan dengan metode konvensional (ceramah).
   Berdasarkan uraian penelitian yang relevan, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan dengan judul penelitian ini. Persamaannya adalah terdapat pada variabel bebas, variabel bebasnya sama-sama menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Number Heads Together (NHT). Perbedaannya pada variabel terikatnya, semua yang diteliti pada penelitian relevan hanya pada hasil belajar saja.

 Sumber : Halimatus Sadiah. 2017. Keefektifan Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Heads Together Terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa, Skripsi Tidak Diterbitkan, Brebes, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhadi Setiabudi Brebes.


Post a Comment for "Keefektifan Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Heads Together Terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa"