Pengaruh Motivasi Mengajar terhadap Kinerja Guru
Motivasi adalah dorongan dasar yang
menggerakan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang
yang menggerakan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam
dirinya. Oleh sebab itu, perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi
tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya.
Sardiman (Kompri. 2015:1) mengemukakan
bahwa motivasi berawal dari kata “motif” yang dapat diartikan sebagai “daya
penggerak yang telah menjadi aktif”. Motif menjadi aktif pada saat-saat
tertentu, terutama bila kebutuhan mencapai tujuan sangat dirasakan mendesak.
Donal (Kompri, 2015:2) mengemukakan hal serupa bahwa motivasi adalah perubahan
energi dalam diri sesorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan
didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Santrock (Sardiman, 2015:3), motivasi
adalah proses yang memberi semangat, arah dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku
yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama.
Ada tiga kata kunci yang dapat diambil dari pengertian psikologi, yakni: 1)
dalam motivasi terdapat dorongan yang menjadikan seseorang mengambil tindakan
atau tidak mengambil tindakan, 2) dalam motivasi terdapat satu pertimbangan
apakah harus memperioritaskan tindakan alternatif, baik itu tindakan A atau
tindakan B, 3) dalam motivasi terdapat lingkungan yang memberi atau menjadi
sumber masukan atau pertimbangan seseorang untuk melakukan tindakan pertama
atau kedua.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dapat
disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu alasan yang dapat membuat seseorang
terdorong untuk melakukan suatu tindakan. Semakin besar motivasi yang dimiliki
seorang guru, maka semakin baik pula kinerja yang dimilikinya. Sebaliknya
semakin kecil motivasi yang dimiliki oleh seorang guru, maka akan rendah pula
kinerjanya dalam mengajar dan melakukan berbagai tugas lainnya.
b.
Jenis
– Jenis Motivasi
Gerungan
(Hamzah, 2008:3) mengemukakan bahwa motif dapat dibagi menjadi tiga macam,yaitu
(1) motif biogenetis, yaitu motif-motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan
organism demi kelanjutan hidupnya, misalnya lapar,haus, kebutuhan akan kegiatan
dan istirahat, mengambil napas, seksualitas,dan sebagainya; (2) motif
sosiogenetis, yaitu motif-motif yang berkembang berasal dari lingkungan
kebudayaan tempat orang tersebut berada. Jadi, motif ini tidak berkembang
dengan sendirinya, tetapi dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan setempat.
Misalnya keinginan untuk dihargai, melanjutkan jenjang pendidikan, memperoleh
penghasilan yang tinggi, dan lain-lain; (3) motif teologis , dalam motif ini
manusia adalah sebagai makhluk berkebutuhan , sehingga ada interaksi antara
manusia dengan Tuhannya, seperti ibadahnya dalam kehidupan sehari-hari ,
misalnya keinginan untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk
merealisasikan norma-norma sesuai agamanya.
Woodworth
(Kompri, 2015:6), menggolongkan atau membagi motif-motif menjadi tiga golongan,
yakni:
1.
Kebutuhan-kebutuhan organis, yakni
motif-motif yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dari dalam
tubuh.
2.
Motif-motif darurat yakni motif-motif
yang timbul jika situasi menuntut timbulnya tindakan kegiatan yang cepat dan
kuat dari kita. Dalam hal ini timbul akibat adanya rangsangan dari luar.
3.
Motif objektif, yakni motif yang
diarahkan/ditunjukan kepada suatu objek atau tujuan tertentu disekitar kita.
Motif ini timbul karena adanya dorongan dari dalam diri.
Sumadi
Suryabrata (Kompri: 2015:6) juga membedakan motif menjadi dua, yakni
motif-motif ekstrinsik dan motif-motif intrinsik :
1.
Motif
ekstrinsik, yaitu motif-motif yang berfungsinya karena adanya
perangsangan dari luar, misalnya orang belajar giat karena diberi tahu bahwa
sebentar lagi aka nada ujian, orang membaca sesuatu karena diberi tahu bahwa
hal itu harus dilakukannya sebelum ia dapat melamar pekerjaan, dan sebagainya.
2.
Motif intrinsic, yaitu motif-motif yang
berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Memang dalam diri individu
sendiri telah ada dorongan itu. Misalnya orang yang gemar membaca tidak usah
ada yang mendorongnya telah mencari sendiri buku-buku untuk dibacanya, orang
yang rajin dan bertanggung jawab tidak usah menanti komando sudah belajar
secara sebaik-baiknya.
c. Motivasi Kerja Guru
Guru
adalah tenaga pendidikan yang pekerjaan utamanya adalah mengajar yang tidak
hanya berorientasi pada ranah cipta saja, tetapi juga berdimensi ranah rasa dan
karsa. Oleh karenanya, selain harus menguasai ilmu yang akan diajarkan, seorang
guru juga harus memiliki sikap dan karakter yang baik agar dapat ditiru oleh
peserta didiknya. Guru yang memiliki motivasi kerja yang tinggi, akan membuat
siswa mudah untuk menjadi pribadi yang rajin dan terampil.
Menurut
Info Diknas (Kompri, 2015:65) motivasi kerja adalah sesuatu yang yang dapat
menimbulkan semangat atau dorongan bekerja individu atau kelompok terhadap
pekerjaan guna mencapai tujuan. Motivasi kerja guru adalah kondisi yang membuat
guru mempunyai kemauan/kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu melalui
pelaksanaan suatu tugas. Motivasi kerja guru akan menyuplai energy untuk
bekerja/mengarahkan aktivitas selama bekerja, dan menyebabkan seorang guru
mengetahui adanya tujuan yang relevan antara tujuan organisasi dan tujuan
pribadinya.
Louis
(dalam Kompri, 2015:61) motivasi kerja
bisa naik turun bahkan tak jarang hilang sama sekali. Kehilangan motivasi kerja
bisa disebabkan kita kekurangan alasan mengapa kita harus bekerja misalnya
karena kita tidak ada lagi motivasi untuk hidup. Hidup tentu mempunyai arti
yang luas, bukan sekedar bernafas saja. Hidup menjadi lebih hidup ketika
seseorang hidup seleranya, cita-citanya, semangatnya, tenaganya, visinya,
bisnisnya, amalannya, kontribusinya pada sesama dan banyak lagi. Kehilangan
motivasi kerja dalam arti luas berarti seperti kehilangan motivasi hidup dalam
arti luas pula, jika kehilangan motivasi kerja dalam waktu yang lama maka
resikonya dalam jangka panjang adalah mati. Kalau sekali waktu kehilangan
motivasi hidup dalam waktu pendek misalnya sejam dua jam atau sehari dua hari
itu normal saja, namun kehilangan motivasi kerja tersebut tetaplah penyakit
yang perlu disembuhkan.
Guru
perlu semangat dan keinginan tinggi untuk mengaktualisasikan potensi yang
dimilikinya. Kemampuan dan motivasi yang tinggi didasarkan pada keinginan yang
kuat dari setiap guru untuk berkarya. Namun seiring dengan perkembangan dan
perubahan seringkali posisi guru dihadapkan pada tantangan yang cukup kursial.
Aspek penghargaan terhadap guru seringkali tidak sesuai dengan tuntutan dan
peran guru dalam mengemban amanah, aspek yang kurang diperhatikan adalah
tingkat kesejahtraan yang sering kali dihadapkan pada standarisasi yang
memaksa. Setidaknya guru sebagai setatus sosial yang sering tersingkir oleh
kepentingan dasar yang ada pada setiap guru. Keberadaan ini menujukan bahwa
motivasi guru perlu didukung oleh perangkat yang mengarah pada kebutuhan untuk
meningkatkan prestasi yang mengarah pada kinerja guru yang berkualitas. Untuk
itu perlu pola kerja yang saling mendukung. Hal lain yang perlu diperhatikan
adalah suasana lingkungan kerja dalam organisasi dimana guru mengaktualisasikan
diri. Lingkungan sekolah merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
kinerja guru. Dapat diartikan bahwa lingkungan pembelajaran di kelas maupun di
sekolah mempengaruhi baik langsung maupun tak langsung terhadap proses kegiatan
belajar mengajar. Dengan demikian keterkaitan antara profesionalisme, motivasi
dan lingkungan kerja merupakan faktor yang saling mempengaruhi terhadap kinerja.
Motivasi
kerja guru juga merupakan faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi kinerja
guru untuk mencapai tujuan pendidikan. Motivasi merupakan kekuatan pendorong
bagi seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan yang diwujudkan dalam bentuk
perbuatan nyata. Semakin tinggi motivasi seseorang maka semakin tinggi pula
kinerjanya begitu pula sebaliknya, semakin rendah motivasi seseorang maka
semakin rendah pula kinerjanya. Apabila para guru mempunyai motivasi kerja yang
tinggi, mereka akan terdorong dan berusaha meningkatkan kemampuannya dalam
merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum yang berlaku di sekolah
sehingga memperoleh hasil kerja yang maksimal (Kompri,2015:65).
d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Motivasi Kerja Guru
Hamzah (2008:72) Motivasi kerja adalah
dorongan dari dalam diri dan luar diri seseorang, untuk melakukan sesuatu yang
terlihat dari dimensi internal dan eksternal. Dengan hal ini maka dapat kita
simpulkan bahwa motivasi dipengaruhi oleh dorongan yang berasal dari dalam diri
seseorang dan juga dari luar dirinya.
Menurut Salusu (Kompri,2015:74) bahwa seseorang
bersedia melakukan suatu pekerjaan karena dirangsang oleh motivasi. Motivasi
itu timbul karena hal-hal sebagai berikut:
1. Adanya
perasaan ingin mencapai sesuatu hasil dengan melakukan pekerjaan menantang
dengan baik.
2. Suatu
kebutuhan dari dalam diri sendiri yang igin melakuakan suatu pekerjaan yang
baik.
3. Melakukan
pekerjaan menurut perasaan adalah penting.
4. Apa
yang dilakukan itu selalu berkaitan dengan tujuan
5. Apa
yang dikerjakan itu adalah sesuatu yang menarik
6. Melakukan
pekerjaan dengan harapan akan ada promosi
7. Mengerjakan
sesuatu adalah membantu organisasi mencapai tujuannya.
8. Mengharapkan
kemungkinan kenaikan penghasilan
9. Mengerjakan
sesuatu sebagai kredit untuk keperluan penilaian penampilan prestasi yang akan
datang.
10. Untuk
memperoleh penghargaan dan pengakuan dari atasan.
11. Melakukan
sesuatu dengan kemungkinan bertambahnya kebebasan dalam pekerjaan.
12. Harapan
akan pengakuan dari teman sejawat.
13. Melaksanakan
tugas dengan tekad tidak menginginkan kelompoknya berpenampilan buruk.
14. Jaminan
akan adanya keimanan kerja yang prima
15. Mengerjakan
sesuatu karena dorongan oleh kondisi fisik pekerjaan yang baik.
Sementara itu menurut Asiqoh (Kompri,2015:76) ada
empat faktor yang dapat menimbulkan motivasi kerja guru yaitu :
1. Dorongan
untuk bekerja
Seseorang akan melaksanakan suatu
pekerjaan tertentu, dimaksudkan sebagai upaya merealisasi keinginan-keinginan
dan kebutuhan-kebutuhan yang ada.
2. Tanggung
jawab terhadap tugas
Sebagai
konsekuensi jabatan yang diemban guru, maka seorang guru akan mempunyai
sejumlah tugas yang harus dilakukan sesuai dengan jabatannya, tugas ini
berkaitan dengan kualitas dan kuanttas yang diberikan guru. Motivasi kerja guru
dalam memenuhi kebutuhannya akan ditentukan oleh besar kecilnya tanggung jawab
yang ada dalam melaksanakan tugasnya.
Tanggung
jawab guru dalam melaksanakan tugas di sekolah, ditandai dengan upaya tidak
segera puas atas hasil yang dicapainya. Selalu mencari cara-cara baru guna
mengatasi setiap hambatan yang ada dan mengadakan penyempurnaan-penyempurnaan
cara melaksanakan secara baik, dan merasa malu apabila ternyata
kegiatan-kegiatan yang dilakukan itu gagal/tidak dilakukan. Dapat dikatakan
bahwa motivasi kerja yang dimiliki guru dalam melaksanakan tugas di sekolah
bergantung banyak sedikitnya beban tugas yang menjadi tanggung jawabnya yang
harus dilaksanakan sehari-hari dan bagaimana cara menyelesaikan tugas ini yang
ditekankan pada tugas mengajar,membimbing,dan mekaksanakan administrasi
sekolah.
3. Minat
terhadap tugas
Besar
kecilnya minat guru terhadap tugas yang akan mempengaruhi kadar atau motivasi
kerja guru mengembangkan disekolah. Selain berpengaruh terhadap suatu
pekerjaan, minat terhadap tugas ini juga berpengaruh terhadap moral kerja.
4. Penghargaan
atas tugas
Penghargaan
atas suatu jabatan atas keberhasilan yang dicapai guru dalam bekerja merupakan
salah satu motivasi yang mendorongnya bekerja. Karena penghargaan,
penghormatan, dan pengakuan sebagai subjek yang memiliki kehendak, pilihan,
perasaan dan lain-lain sangat besar pengaruhnya terhadap kerja seorang guru.
Dengan
adanya penghargaan ini dapat memberikan kepuasan kepada guru sehingga
menyebabkan mereka bekerja lebih giat lagi. Apabila guru menghargai terhadap
tugas-tugas tersebut maka guru yang bersangkutan dalam bekerjannya diwarnai
oleh rasa cinta dan bangga sehingga memungkinkan mereka mengoptimalkan pola
kerjanya. Penghargaan
merupakan salah satu langkah nyata dalam hasil pembinaan terhadap guru yang
telah menunjukan prestasi kerja yang baik. Selain itu penghargaan juga dapat
diberikan kepada guru yang telah mencapai masa kerja tertentu sehingga dapat
memberikan teladan bagi guru lainnya. Selain sebagai upaya dalam membalas jasa
atas hasil kerja guru yang maksimal, penghargaan juga dapat mendorong guru
untuk senantiasa bekerja lebih giat dengan mengeluarkan semua potensi yang
dimilikinya dengan optimal.
Pada garis besarnya kinerja guru dibagi
menjadi dua, yaitu kinerja guru dalam mendesain program pengajaran dan kinerja
guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
Adapun Indikator dari motivasi dalam
meningkatkan kinerja guru, dapat dilihat dari tabel (Hamzah, 2008:73) berikut
ini.
Tabel 2.1 Indikator Motivasi Kerja
Aspek
|
Indikator
|
Motivasi Internal
|
-
Tanggung jawab guru dalam melaksanakan kegiatan
belajar mengajar.
-
Melaksanakan tugas dengan target yang jelas.
-
Memiliki tujuan yang jelas dan menantang
-
Ada umpan balik atas hasil pekerjaannya.
-
Memiliki perasaan senang dalam bekerja.
-
Selalu berusaha untuk mengungguli orang lain.
Diutamakan prestasi dari apa yang
dikerjakannya.
|
Motivasi
Eksternal
|
-
Selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidup dan
kerjanya.
-
Senang memperoleh pujian dari apa yang
dikerjakannya.
-
Bekerja dengan harapan ingin memperoleh insentif.
-
Bekerja dengan harapan ingin memperoleh perhatian.
|
e. Teori Motivasi
Hamzah (2016: 39-43) Secara umum teori
motivasi dibagi menjadi dalam dua kategori, yaitu teori kandungan (content),
yang memusatkan perhatian pada kebutuhan dan sasaran tujuan, dan teori proses,
yang banyak berkaitan dengan bagaimana orang berprilaku dan mengapa mereka
berprilaku dengan cara tertentu . Hal paling penting dari kedua teori tersebut
adalah seperti yang terurai di bawah ini :
1.) F.W Taylor dan Manajemen Ilmiah
F.w Ta ylor
(Hamzah, 2016:39) adalah seorang tokoh angkatan “manajemen ilmiah”, manajemen
berdasarkan ilmu pengetahuan. Pendekatan itu memusatkan perhatian membuat
pekerjaan seefektif mungkin dengan merampingkan metode kerja, pembagian tenaga
kerja, dan penilaian pekerjaan. Pekerjaan dibagi-bagi ke dalam berbagai
komponen, diukur dengan menggunakan teknik-teknik penelitian pekerjaan dan
diberi imbalan sesuai dengan produktivitas. Dengan pendekatan itu, motivasi
yang disebabkan imbalan keuangan dapat dicapai dengan memenuhi sasaran-sasaran
keluaran. Pemikiran inilah yang melatarbelakangi sebagian besar penelitian
pekerjaaan yang didasarkan pada skema imbalan (insentif).
Masalah
pokok dengan pendekatan adalah pendekatan itu menganggap uang merupakan
motivasi utama. Namun, perkembangannya memang berbeda pada setiap orang dan
setiap pekerjaan
2.) Hierarki Kebutuhan Maslow
Setiap kali
membicarakan motivasi, hierarki kebutuhan Maslow pasti disebut-sebut. Hierarki
itu didasarkan pada anggapan bahwa pada waktu orang telah memuaskan satu
tingkat kebutuhan tertentu, mereka ingin bergeser ke tingkat yang lebih tinggi.
Maslow
(Hamzah, 2016:40) mengungkapkan lima tingkat kebutuhan seperti terlihat pada
gambar di bawah ini :
Aktualisasi
Penghargaan
Cinta Kasih
Kebutuan Fisilogis
Gambar 2.1 Hierarki Kebutuhan Maslow
(a) Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan yang harus dipuaskan untuk dapat tetap hidup,
termasuk makanan, perumahan, pakian, udara untuk bernafas dan lain sebagainya.
(b) Kebutuhan akan Rasa Aman
Ketika kebutuhan fisiologis seseorang telah dipuaskan,
perhatian dapat diarahkan kepada kebutuhan akan keselamatan. Keselamatan itu, termasuk merasa aman dari
setiap jenis ancaman fisik atau kehilangan, serta meras terjamin, Dalam hal ini
maka kebutuhan akan rasa aman, juga dapat dicontohkan pada tunjangan pensiunan
bagi guru PNS. Tunjangan dana pensiun bagi guru PNS ini adalah salah satu
contoh akan kebutuhan akan ras aman.
(c) Kebutuhan akan Cinta Kasih atau Kebutuhan
Sosial
Dalam hal ini berarti seorang guru bekerja bukan hanya
untuk mendapatkan uang guna mencukupi kebutuhan hidup, Lebih dari itu, karenanya
pekerjaannya sebagai guru dinilai pada dasar hubungan kemitraan sosial yang
ditimbulkan.
(d) Kebutuhan akan Penghargaan
Percaya diri dang harga diri maupun kebutuhan akan
pengakuan orang lain. Dalam kaitannya dengan pekerjaan , hal itu berarti
memiliki pekerjaan yang dapat diakui sebagai bermanfaat, menyediakan sesuatu
yang dapat dicapai, serta pengakuan umum dan kehormatan di dunia luar.
(e) Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan tersebut ditempatkan paling atas pada hierarki
Maslow dan berkaitan dengan keinginan pemenuhan diri. Ketika semua kebutuhan
lain sudah dipuaskan , seseorang ingin mencapai secara penuh potensinya.
f. Proses Motivasi
Menurut
Zainun (Mustika, 2017:20) proses terjadinya motivasi disebabkan adanya
kebutuhan yang mendasar. Dan untuk memenuhi kebutuhan timbulah dorongan untuk
berperilaku. Bilamana seseorang sedang mengalami motivasi atau sedang
memperoleh dorongan, maka orang itu sedang megalami hal yang tidak seimbang.
Dalam hidupnya, manusia selalu memiliki
kebutuhan yang tidak terbatas, dimana setiap keinginan yang satu terpenuhi maka
akan senantiasa muncul berbagai keinginan dan kebutuhan lainnya. Oleh karena
itu, selama manusia memiliki berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi, maka
selama itu pulalah proses motivasi akan terus berjalan. Pada dasarnya proses
terjadinya motivasi menunjukan adanya dinamika yang terjadi disebabkan adanya
kebutuhan yang mendasar dan untuk memenuhinya terjadi dorongan untuk
berperilaku.
Jangka waktu yang tertentu akan timbul
kebutuhan lagi untuk dipernuhi . Apabila suatu kebutuhan yang sama timbul
berulang-ulang dengan berlangsungnya waktu maka yang berlaku adalah proses
motivasi sebagaimana proses motivasi yang telah dijelaskan di atas, namun jika
setiap kali timbul kebutuhan baru, tetapi kebutuhan tersebut termasuk kedalam
jenjang golongan yang lebih tinggi tingkatannya, maka hal ini disebut jenjang
kebutuhan Maslow.
Jenjang kebutuhan Maslow menyatakan jika
kebutuhan fisilogis belum terpenuhi, maka kelompok kebutuhan inilah yang akan
menuntut paling kuat untuk dipenuhi. Jika kebutuhan fisilogis sudah terpenuhi
maka akan terasa adanya tuntutan dari kelompok kebutuhan yang kedua yakni
kebutuhan akan rasa aman, dan seterusnya, kemudian kebutuhan cinta kasih,
kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri.
1.
Kinerja
a.
Pengertian Kinerja Guru
Sebelum membahas kinerja guru, terlebih
dahulu penulis akan menguraikan definisi dari guru itu sendiri. Menurut Nurdin
dan Usman (Kompri, 2015:30) guru adalah tenaga profesional yang dapat
menjadikan murid-muridnya merencanakan, menganalisis dan menyimpulkan masalah
yang dihadapi. Sementara menurut Nawawi (Kompri, 2015:30) guru adalah orang
dewasa, yang karena peranannya berkewajiban melakukan sentuhan pendidikan
dengan anak didik.
Guru adalah
tenaga pendidikan yang pekerjaan utamanya adalah mengajar, yang tidak hanya
berorientasi pada ranah kognitif saja, namun juga harus dapat menyentuh ranah
sikap dan psikomotorik. Hal ini agar selain memiliki ilmu pengetahuan, peserta
didik juga diharapkan akan memiliki berbagai keterampilan yang landasan
utamanya adalah sikap dan karakter yang baik sebagai bekal utama mereka
menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kinerja
berasal dari bahasa Inggris yaitu performace.
Performance sendiri berasal dari kata
to perfom yang memiliki arti
menampilkan atau melaksanakan. Sedangkan yang di maksud kinerja adalah gambaran
mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program atau
kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi lembaga yang tertuang
dalam rencana strategis suatu organisasi.
Menurut
Sulistyorini (dalam Saondi Ondi, 2012:20) kinerja adalah tingkat keberhasilan
seseorang atau kelompok orang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
serta kemampuan untuk mencapai tujuan dan standar yang telah ditetapkan
Abdulah Munir
(2008:31-32) kinerja guru dapat diartikan sebagai hasil kerja berdasarkan
penilaian tentang tugas dan fungsi jabatan sebagai pendidik, manajer lembaga
pendidikan, administrasi, supervisor, inovator, dan motivator atau apapun yang
penilaian nya dilaksanakan oleh suatu instansi tertentu baik lembaga internal
maupun eksternal. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
kinerja guru adalah tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seorang guru dalam
melaksanakan tugas yang disesuaikan dengan tanggung jawab dan wewenangnya
berdasarkan standar kinerja yang telah ditetapkan selama periode tertentu dalam
rangka mencapai tujuan sekolah atau pendidikan.
Tugas utama
guru sebagai pendidik profesional adalah mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran siswa. Oleh
karena itu, sebagai tenaga pendidikan yang profesional di kelas pembelajaran
siswa haruslah menuju kepribadian yang utuh, dan harus menguasai sepuluh
kompetensi dasar yang harus dimilikinya.
Ahmad Barizi (2009:150) Sepuluh kompetensi
ini, menurut Nana Sudjana, A.Muri Yusuf, dan Rochman Natawidjaja adalah sebagai
berikut:
(1) Menguasai bahan yang akan diajarkan
(2) Mengelola program belajar mengajar
(3) Mengelola kelas
(4) Menggunakan media/sumber belajar
(5) Menguasai landasan-landasan kependidikan
(6) Mengelola interaksi belajar mengajar
(7) Menilai prestasi siswa
(8) Mengenal fungsi dan program bimbingan dan
konseling.
(9) Mengenal dan menyelenggarakan administrasi
sekolah
(10) Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan
hasil-hasil penelitian
Kinerja dapat
dilihat dari beberapa kriteria. Menurut Castetter (dalam Saondi Ondi, 2012:21)
ada 4 kriteria kinerja, yaitu :a) Karakteristik individu, b) Proses, c) Hasil,
dan d) Kombinasi antara karakteristik individu, proses, dan hasil.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa kinerja guru dapat ditingkatkan jika ada
kesesuaian antara pekerjaan dan keahliannya. Selain itu, kinerja guru juga
sangat dipengaruhi oleh kepuasan guru dalam bekerja. Dengan memiliki kepuasan
batin yang tinggi, maka seorang guru akan dapat meningkatkan kinerjanya. Lebih
dari itu mereka juga akan sangat menyukai pekerjaannya, sehingga akan
senantiasa bekerja dengan baik.
Menurut Robins (dalam Saondi Ondi,
2012:22) mengatakan bahwa dalam melakukan evaluasi kinerja seseorang dapat
dilakukan dengan dengan menggunakan tiga macam kriteria yaitu hasil tugas,
perilaku, dan ciri individu. Dari penjelasan tesebut, dapat kita ambil contoh
untuk mengevaluasi kinerja seorang guru dapat dilihat saat mereka dapat suatu
perintah dari atasannya. Kinerja guru yang baik akan memiliki ciri dan perilaku
yang baik sehingga dapat membuahkan hasil pekerjaan yang baik.
Menurut
Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 16 tahun 2007
tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru (Mustika, 2017:26),
adapun macam-macam kompetensi yang harus dimiliki guru antara lain : kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan
profesi. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru, yaitu :
1.
Kompetensi Pedagogik
Menurut Mulyasa, (2009:75) kompetensi
pedagogik meliputi pemahanam guru terhadap peserta didik, perancangan dan
pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta
didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Secara
rinci setiap sub komptensi dijabarkan menjadi indikator esensial sebagai
berikut.
(a) Memahami peserta didik secara mendalam dapat
dilakukan dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian dan mengidentifikasi
bekal ajar awal peserta didik.
(b) Merancang
pembelajaran termasuk memahami landasan pendidikan, menerapkan teori belajar
dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik pserta
didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar serta membuat rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang
dipilih.
(c) Melaksanakan pembelajaran memilikiindikator
esensial yaitu menata latar atau setting, pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran
yang kondusif.
(d) Merancang dan melaksanakan ecaluasi
pembelajaran memiliki indikator esensial yaitu merancang dan melaksanakan evaluasi atau assessment proses dan hasil belajar
secara berkesinambungan dengan berbagai metode, menganalisis hasil
evaluasi proses dan hasil belajar untuk
menentukan tingkat ketuntasan belajar, serta memanfaatkan hasil penilaian
pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
(e) Mengembangkan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensinya, memiliki indikator esensial yaitu
memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan
memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi non akademik.
2.
Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang
mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, arif, dan berwibawa untuk menjadi
teladan bagi peserta didik.
3.
Kompetensi sosial
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk
berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik. sesama pendidik,
tenaga kependidikan, orangtua / wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
4.
Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi
pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencangkup penguasaan materi
kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi
materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya. Guru
yang memiliki komptensi profesional perlu menguasai antara lain; a). Disipilin
ilmu pengetahuan sebagai sumber pelajaran; b). Bahan ajar yang diajarkan; c).
Pengetahuan tentang karakteristik siswa; d). Pengetahuan tentang filsafat dan
tujuan pendidikan; e). Pengetahuan serta penguasaan metode dan model mengajar;
f). Penguasaan terhadap prinsip-prinsip teknologi pembelajaran, dan g).
Pengetahuan terhadap penilaian dan mampu merencanakan serta memimpin guna
kelancaran proses pendidikan.
b.
Pengukuran Kinerja Guru
Dalam kurun
waktu yang telah ditentukan seorang guru haruslah melakukan evaluasi terhadap
kinerjanya, yaitu membandingkan hasil yang telah direncanakan dengan hasil yang
telah diperoleh. Dengan kata lain, setiap sasaran yang telah ditetapkan
diteliti satu persatu, sehingga akan diketahui mana yang telah mencapai sasaran
sepenuhnya, yang dapat melampaui standar (target), dan mana yang tidak
tercaapai (di bawah standar). Penilaian kinerja ini sendiri haruslah dilakukan
oleh guru yang bersangkutan.
Menurut
Abdullah, (2014: 65) dalam melaksanakan evauasi kinerja diperlukan standar
kerja (performance standard). Standard
kinerja adalah sesuatu yang esensial, karena evauasi kinerja itu dilakukan
dengan jalan membandingkan kinerja ternilai dengan standar yang sudah
ditetapkan. Dengan kata lain evaluasi kinerja tak mungkin dilakukan tanpa ada
standar kerja.
Standar kerja
yang baik itu harus realistis, dapat diukur, mudah dipahami dengan jelas
sehingga bermanfaat bagi sekolah maupun bagi guru. Standar kinerja harus
ditetapkan lebih dahulu sebelum memulai pekerjaan. Standar kinerja yang
didefinisikan dengan jelas memastikan setiap orang yang terlibat dalam
pekerjaan organisasi mengetahui tingkat pencapaian kinerja yang diharapkan.
Menurut Muji Hariani dan Noeng Muhajir
(Mustika, 2017:28) terdapat sejumlah kinerja guru dalam melaksanakan proses
belajar mengajar yang terkenal dengan sebutan Stanford Teacher of Appraisal
Competence (STAC) yaitu :
1)
Model Rob Norris, meliputi :
(a)
Kualitas-kualitas
personal dan professional
(b)
Persiapan
pengajaran
(c)
Perumusan
tujuan pengajaran
(d)
Penampilan
guru saat mengajar di kelas
(e)
Penampilan
siswa dalam belajar
(f)
Evaluasi
2) Model
Oregon, Meliputi :
(a)
Perencanaan dan persiapan mengajar
(b) Kemampuan guru dalam mengajar dan
kemampuan siswa dalam belajar.
(c) Kemampuan
mengumpulkan dan menggunakan informasi hasil belajar.
(d)
Kemampuan hubungan interpersonal yang
meliputi hubungan dengan siswa, supervisor dan guru sejawat.
(e) Kemampuan
hubungan dengan tanggung jawab profesional.
c. Tujuan
Pengukuran Kinerja
Menurut Mahmudi (Mustika, 2017: 29) pengukuran
kinerja merupakan bagian penting dari proses pengendalian manajemen, baik
organisasi publik maupun swasta. Tujuan dilakukannya pengukuran kinerja
tersebut adalah:
1.
Mengetahui
tingkat ketercapainya tyujuan organisasi
2.
Menyediakan
saran dan pembelajaran pegawai
3.
Memperbaiki
kinerja periode berikutnya
4.
Memberikan
pertimbangan yang sistematik dalam pembuatan keputusan pemberian Reward
5.
Memotivasi
pegawai
6.
Menciptakan
Akuntabilitas publik.
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja guru
dapat diukur melalui kemampuanya dalam membuat rencana pengajaran baik harian,
tiap semester, maupun tahunan. Kinerja guru tersebut juga dapat diukur melalui
kemampuannya dalam melaksanakan pengajaran, melakukan interaksi dengan peserta
didik, serta melakukan proses penilaian.
1.
Membuat Rencana Pengajaran
Membuat
rencana pengajaran merupakan salah satu tahapan yang harus dilalui guru sebelum
melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar. Bentuk kegiatannya antara lain
adalah membuat rencana mengajar melalui Program Tahunan (Prota), Program
Semester (Promes), merumuskan kompetensi dasar, merancang alokasi waktu,
menyusun rencana pengorganisasian bahan pelajaran dan sebagainya.
2.
Melaksanakan
Pengajaran
Dalam
melaksanakan pengajaran sebagai bagian dari implementasi kurikulum,
melaksanakan proses belajar mengajar dan menilai hasil belajar merupakan
kegiatan yang saling berurutan dan terpadu. Proses belajar mengajar sendiri
merupakan interaksi edukatif yang dilakukan oleh seorang guru dengan peserta
didik dalam situasi tertentu. Untuk mencapai tujuan mengajar yang diharapkan,
maka proses kegiatan belajar mengajar ini tidak bisa dilakukan hanya begitu
saja. Perlu adanya perencanaan dan desain pengajaran yang dibuat sedemikian
rupa berdasarkan prosedur dan langkah-langkah tertentu. Bentuk kegiatan dalam
melaksanakan kegiatan pengajaran antara lain adalah memberikan pertanyaan pada
siswa sebelum memulai pelajaran untuk menarik minat belajar mereka, menyajikan
pelajaran, dan menggunakan berbagai metode pengajaran.
Indikator
kinerja guru menurut Tabrani, (2007: 177) adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2 Indikator Kinerja Guru
Aspek
|
Indikator
|
Kinerja
Guru
|
-
Kehadiran
Melaksanakan Tugas
-
Membangun Suasana kelas yang menyenangkan
-
Menggunakan media tambahan untuk menunjang
pembelajaran.
-
Menerapkan metode pembelajaran.
-
Melaksanakan tes akhir kegiatan pembelajaran.
-
Merumuskan materi pembelajaran.
-
Relevan dengan kehidupan.
-
Mendokumentasikan bukti keberhasilan belajar
peserta didik
|
d. Pengaruh Motivasi Mengajar Terhadap
Kinerja Guru
Pendidikan berkualitas adalah suatu pondasi
untuk mencetak sumber daya manusia yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan
pembangunan. Karakteristik siswa dan lulusan yang baik, sangat erat kaitannya
dengan proses belajar mengajar yang baik pula. Oleh karena itu, dibutuhkan
tenaga pendidik yang profesional yang bekerja dengan kinerja yang tinggi.
Selain sebagai tenaga pengajar yang bertugas mentransfer ilmu
pengetahuan kepada peserta didik, guru juga merupakan tenaga pendidik yang
bertugas menanamkan nilai-nilai yang luhur sebagai kodratnya sebagai seorang
manusia, masyarakat, dan warga negara. Selain itu guru juga tak bisa terlepas
dari tugasnya sebagai pembimbing, yang mengarahkan dan menuntun siswa dalam
belajar. Untuk itu, guru perlu menempatkannya sebagai tenaga profesional , yang
senantiasa bekerja dengan kinerja yang tinggi.
Husaini
(2006: 223), dalam peranannya menjadi seorang pemimpin kepala sekolah harus
mampu mempengaruhi semua orang-orang yang terkait dalam proses pendidikan,
motivasi sangat penting untuk meningkatkan kinerja pegawai karena kinerja
tergantung dari motivasi, kemampuan dan lingkungan.
Motivasi
terbentuk dari sikap sesorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja, motivasi
merupakan proses psikis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Motivasi bisa berasal dari dalam diri seseorang ataupun berasal dari orang
lain. Memotivasi diri sendiri atau pun orang lain bukanlah suatu perkara mudah.
Dalam memotivasi diri, seseorang dihadapkan dengan dua hal yang berpengaruh
dalam pekerjaannya, yaitu kemauan dan kemampuan.
Pada umumnya kinerja yang tinggi dihubungkan dengan
motivasi yang tinggi. Sebaliknya, motivasi yang rendah dihubungkan dengan
kinerja yang rendah. Kinerja seseorang kadang-kadang tidak berhubungan dengan
kompetensi yang dimiliki, karena terdapat faktor diri dan lingkungan kerja yang
mempengaruhi kinerja. Kinerja yang tinggi adalah fungsi dan interaksi antara
motivasi, kompetensi dan peluang sumber daya pendukung.
Sumber : Detatang.
2019. Pengaruh Motivasi Mengajar terhadap Kinerja Guru Sedabin 5 Kecamatan
Larangan Brebes, Skripsi Tidak Diterbitkan, Brebes, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Muhadi Setiabudi Brebes.

Post a Comment for "Pengaruh Motivasi Mengajar terhadap Kinerja Guru"
Komentar