Kisah Nabi Musa As dan Nabi Harun AS


Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun As merupakan kisah lanjutan dari kisah Nabi Musa As.  Dikisahkan sebelumnya bahwa Raja Fir’aun dan pengiktnya telah binasa. Namun meskipun demikian, kekufurannya masih saja tertanam dalam jiwa rakyatnya, sehingga Nabi Musa As. merasakan kesulitan untuk memperbaiki budi pekerti yang telah rusak itu, apalagi dengan sekedar nasihat-nasihat.



Untuk itu, Nabi Musa As. memohon kepada Allah SWT., sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya :

“Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan) ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku.” (QS. Al-Qashash: 34)

Permohonan Nabi Musa As. dijawab oleh Allah SWT., yang artinya :

Allah berfirman : “Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak akan dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mu’jizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang.” (QS. Al-Qashash: 35)

Kisah Nabi Musa As. Menerima Wahyu

Ketika pergi ke Gunung Sinai, Nabi Musa As. menerima firman dari Allah SWT., selama 40 malam. Selama itu, ditinggalkannya umatnya dibawah pimpinan Nabi Harun As. Tetapi selama kepergian Nabi Musa As. itu, umatnya ternyata menjadi lupa diri dan murtad.

Kisah Samiri Membuat Patung Anak Sapi

Salah seorang umat Nabi Musa As., adalah Samiri, ia pandai membuat patung sapi betina dari emas. Kemudian dimasukannya segumpal tanah dari bekas telapak kaki kuda malaikat Jibril, sehingga patung itu dapat bersuara. Menurut riwayat, sewaktu Nabi Musa As. dan kudanya akan menyebrangi Laut Merah bersama kaumnya, Malaikat Jibril dengan mengendarai kuda betina membimbing perjalanan mereka di muka. Itu adalah perintah Allah SWT., karena semula kuda Nabi Musa As. dan kaumnya tidak mau melewati Laut Merah.  Rupanya Samiri, si tukang sihir itu,melihat mukjizat Allah itu, dan segera memanfaatkannya untuk tujuan jahat.
Setelah patung anak sapi itu selesai dibuat, maka berserulah Samiri kepada orang-orang disekitarnya : “Wahai kawan-kawanku, agaknya Musa sudah tidak ada lagi, maka tidak ada gunanya kita menyembah Tuhannya Musa. Sekarang, marilah kita sembah patung anak sapi yang terbuat dari emas ini. Dia pun dapat bersuara, dan inilah tuhan yang patut kita sembah.”
Maka banyak diantara umat Nabi Musa As. yang berbalik murtad dan mengikuti ajakan Samiri. Mereka beramai-ramai menyembah patung anak sapi itu. Nabi Harun As. telah berusaha sekuat tenaga untuk mencegah mereka dari kemurtadan itu, tetapi mereka menentangnya.

Ketika Nabi Musa As. kembali kepada kaumnya, dan melihat perbuatan mereka yang sesat itu, murka dan duka-citanya bukan kepalang. Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt. Menerangkan hal itu dengan firman-Nya, yang artinya :

Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati.Berkata Musa: “Hai Kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?” (QS. Thaaha: 86)

Kemudian, Nabi Musa Menegur Nabi Harun As. atas ketidak mampuannya menjaga umatnya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya :

Berkata Musa : “Apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku? “ (QS. Thaaha: 92-93) 

Nabi Harun AS. menjawab: “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku) : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.” (QS. Thaaha: 94)

Kepada Samiri, Nabi Musa As. kemudian menghardik seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya :

“Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?” Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.” Berkata Musa : “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu didalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku).” Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).” (QS. Thaaha : 95-97)

Kemudian, kepada umatnya yang lain, Nabi Musa As. memerintahkan untuk bertobat atas kesalahan dan dosa mereka itu. Nabi Musa As. memohon ampun pula kepada Allah SWT., sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya :

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sesembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 54)

Kisah Umat Nabi Musa Ingin Melihat Tuhan

Umat Nabi Musa As., yakni Bani Israil, memiliki sifat keras kepala dan hati. Sifat kekufuran yang ada pada mereka tidak mudah hilang begitu saja. Mereka senantiasa mencari alasan untuk dapat lepasdari kewajiban dan bebas dari segala yang diharamkan. Mengenai itu, Allah Swt telah berfirman yang artinya :

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang,” karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah : 55-56)

Bani Israil ragu kepada Allah SWT. Karena itu mereka menyerupakan Tuhan dengan sesuatu makhluk hidup, padahal seisi alam ini tidak ada yang dapat menyerupai Allah. Zat Allah tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Tetapi Allah SWT. Dapat melihat (dengan kesucian dan kekuasaan-Nya) segala makhluk ciptaan-Nya.

Kisah Ummat Nabi Musa Terkurung di Padang Tih

Bani Israil yang telah menjadi pengikut Nabi Musa As. mudah sekali berpengaruh oleh kaumnya yang kafir. Jika mereka bertemu, maka para pengikut Nabi Musa As. akan segera kembali kepada kebiasaan lamanya.

Itulah sebabnya Allah SWT., kemudian menyuruh mereka agar berhijrah ke negeri Suriya (Baitul-Maqdis). Tetapi mereka menolak perintah itu dengan banyak mengemukakan alasan yang dibuat-buat. Maka Allah SWT. mengurung mereka di Padang Tih selama 40 tahun. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT menerangkan yang artinya :

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa,” niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 58)

Kaum Nabi Musa As. dilimpahi berbagai nikmat yang banyak dari Allah, Allah selalu menolong mereka ketika dalam kesusahan , namun durhaka kepada Allah. Walaupun mereka selalu memperoleh pertolongan Allah SWT ketika dalam kesempitan , namun mereka sering kufur dan tidak mensyukurinya.

Nabi Musa As. wafat di Padang Tih dalam usia 120 tahun, sedangkan Nabi Harun As. wafat lebih dahulu dari pada beliau.

Hikmah dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun

1.       Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Nabi Musa kecil selamat dari ancaman pembunuhan ketika lahir adalah karena kuasa Allah.
2.       Nabi Musa adalah orang yang sangat bersahaja, sehat jasmani dan rohani, cerdas serta tanggap terhadap fenomena masyarakatnya.
3.       Nabi Musa memahami keterbatasan pada dirinya, bahwa ia tidak fasih berbicara, maka ia mengangkat temannya Nabi Harun yang lebih fasih bicaranya sebagai partnenya dalam menegakan riasalah Allah. Atu sifat yang harus diteladani ; bahwa setiap diri mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Berani mengakui kelemahan diri dan mengagumi kelebihan orang lain adalah kunci memperoleh kebahagiaan hidup.
4.       Allah mengekalkan jasad Fir’aun sampai saat ini sebagai pelajaran bagi umat manusia akan kesombongan seorang dengan mengaku sebagai tuhan yang akhirnya binasa dan tidak berkutik dihadapan Allah Swt.

Bagi sobat yang ingin membaca kisah Nabi dan Rasul lainnya, silahkan bisa melihatnya di Daftar Isi Kisah 25Nabi dan Rasul Lengkap Beserta Dalilnya dengan cara klik di sini.


Sumber :  Mahfan. 2005, Kisah 25 Nabi & Rasul, Jakarta: Sandro Jaya. 
              

Post a Comment for "Kisah Nabi Musa As dan Nabi Harun AS"