Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Belajar dari Sejarah Abu Bakar Assidiq RA.

via ibnuasmara.com

Nama lengkap Abu Bakar Assidiq adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tayyim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Quraisy. Nasabnya menyambung dengan Rasulullah Saw pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim yang berarti ayah ibunya sama dari kabilah Bani Taim.

Abu Bakar Assidiq adalah ayah Aisyah ra (istri Rasulullah Saw). Nama yang sebenarnya adalah Abdul Ka’bah yang artinya hamba Ka’bah dan setelah Abu Bakar masuk Islam, namanya diganti oleh Rasulullah Saw dengan nama Abdullah yang artinya hamba Allah Swt.

A. Biografi Kholifah Abu Bakar Assidiq RA.

Menurut Jaih Mubarok, Khulafa Ar-Rosyidin berasal dari sebuah riwayat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat tersebut dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya: “Umatku akan terpecah-pecah menjadi 73 golongan, semuanya akan ditempatkan di neraka, kecuali satu golongan saja. Apa yang satu golongan itu? Tanya seorang sahabat. Nabi SAW. menjawab: kelompok Ahlussunnah wal jamaah. Sahabat bertanya lagi: siapakah mereka? Nabi SAW menjawab: mereka yang taat kepada sunnahku dan sunah Khulafa Ar-Rosydin.1

Menurut Uzwah Paneka, Abu Bakar adalah sahabat yang terpercaya dan dikagumi oleh Rasulullah SAW. ia merupakan pemuda yang pertama kali menerima seruan Rasulullah tanpa banyak pertimbangan. Seluruh kehidupannya dicurahkan untuk perjuangan suci membela dakwah Rasulullah. Rasulullah sangat menyayanginya sehingga, sering kali ia di tunjuk menjadi imam sholat. Saat Rasulullah hijrah ke Madinah, Abu bakar menyertainya. Kedekatan Abu Bakar dengan Rasulullah dalam perjuangan Islam ibarat Rasulullah dengan bayangannya. 

Sampa akhir hayatnya, Rasulullah tidak menunjuk seseorang sebagai penggantinya. Sehingga, ketika beliau wafat, masyarakat Muslim mengalami kebingungan, kemudian terdapatlah golongan Muhajirin dan Anshar yang berusaha memilih penerus dan penggantinya sambil masing-masing memunculkan tokohnya. Walaupun, pada akhirnya kedua tokoh dari masing-masing golongan yang mengusulkan tersebut menolak sambil berkata, “tidak, kami tidak mempunyai kelebihan dalam urusan ini”. Dalam situasi yang semakin kritis, Umar bin Khatab dari golongan Muhajirin mengangkat tangan Abu Bakar seraya menyampaikan sumpah setia kepadanya dan membaiatnya sebagai khalifah. Sikap Umar ini, diikuti oleh Abu Ubaidillah dari golongan Anshar beserta tokoh-tokohnya yang hadir. Mereka menyatakan kerelaannya membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Itulah tonggak awal dari Abu Bakar menjadi seorang khalifah untuk menggantikan Rasulullah.2

Menurut Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim, Abu Bakar Siddik bernama Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taiym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al Qurasyi At Taimi. Serta nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah yaitu pada kakeknya, Murrah. Beliau dilahirkan 2 tahun 6 bulan setelah tahun gajah (pada tahun 573 M).

Abu Bakar adalah lelaki yang lemah lembut, namun dalam hal memerangi orang yang murtad, beliau memiliki pendirian yang kokoh. Bahkan lebih tegas dan keras daripada Umar bin Khattab yang terkenal akan keras dan tegasnya beliau dalam pembelaan terhadap Allah. 

Ibnu ‘Umar Radhiallahu’anhu berkata: “Kami pernah memilih orang terbaik di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Kami pun memilih Abu Bakar, setelah itu Umar bin Khattab, lalu ‘Utsman bin Affan Radhiallahu’anhu” (HR. Bukhari)3

Selain itu menurut Siska Lis Sulistiani, Abu Bakar lahir di kota Makah  dua tahun setelah lahirnya Rasulullah SAW. Adapun gelar Ash-Shidiq yang disandangnya merupakan sebagai sebuah penilaian terhadap sikapnya yang senantiasa jujur dan benar selain itu dia lah yang bersegera dalam membenarkan Rasulullah SAW seperti dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Abu Bakar memiliki gelar Al-Atiq, karena dia termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga sehingga terlepas dari neraka sebagaimana ini yang terdapat dalam riwayat At-Tirmidzi. Juga disebutkan bahwa gelar itu karena wajahnya yang rupawan atau ada yang mengatakan karena keturunanya tidak ada yang mengandung aib.4 

B. Masa Pemerintahan Abu Bakar As-Sidiq

1) Bidang Politik

Menurut Siska Lis Sulistiani, kebijakan politik yang dihadirkan oleh Abu Bakar pada masa pemerintahannya merupakan sebuah era baru, babak perluasan dakwah islam setelah sepeninggal Rasulullah SAW dan dinilai sebagai sebuah kemajuan yang signifikan. Maka penulis membagi kepada tiga hal penting yang terjadi mada masa tersebut, diantaranya:

a. Memerangi Kemurtadan

Setelah wafatnya Rasulullah SAW pada tanggal 18 Rabi’ul Awal  tahun ke 11 H, banyak kaum muslimin yang menjadi murtad dan sebagian dari mereka ada yang mengingkari untuk mengeluarkan zakat sebagai bagian dari rukun islam yang wajib ditunaikan, mengetahui hal itu maka Abu Bakar memerangi mereka, seperti pada tahun 12 Hijriyah diutuslah Al-‘Ala bin Al-Hadhrami ke Bahrain, lalu Ikrimah bin Abu Jahal ke Amman dan Al-Muhajir bin Umayyah ke Najir untuk memerangi orang-orang murtad. Selain itu, mulai bermunculan orang-orang munafik yang mengaku  sebagai nabi setelah Rasulullah SAW, seperti Thulaihah bin Asadi dari bani asad, Sujah bin harits dari Tamim, Musailamah al-Kadzab dari Bani Hunaifah dan  Al-Aswad Al-Ansi Al-Qohtonii dari Yaman, maka dengan penuh keberanian Abu Bakar memerangi mereka.4

b. Penghimpunan Al-Qur’an

Penghimpunan Al-Qur’an ini merupakan atas rekomendasi Umar bin Khatab saat melihat banyak dari kalangan sahabat yang hafal Al-Qur’an yang syahid saat peperangan di Yamamah dalam memerangi kemurtadan yang menewaskan Musailamah Al-Kadzab beserta 20.000 orang lainnya, sedangkan dari pihak kaum muslim sebanyak 12.000 orang.4

Abu Syafiq menerangkan bahwa kondisi tersebut membuat Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu khawatir. Para shahabat telah berpencar ke berbagai pelosok untuk menyampaikan dakwah Islam. Mati syahid menjadi idaman mereka semua. Sementara Al-Quran tersimpan di dalam dada mereka. Sehingga, kematian mereka secara tidak langsung menjadi penyebab hilangnya Al-Quran.
Bertolak dari pemikiran itu, Umar pun bergegas menemui Abu Bakar untuk bermusyawarah dengannya dalam hal pengumpulan Al-Quran dalam satu mushaf.Pada awalnya Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak menyetujui usulan Umar tersebut, dengan alasan Nabi SAW tidak pernah melakukan itu. Bagaimana mungkin dia melangkahi Nabi. Namun Umar tidak lekas menyerah, dia terus berusaha meyakinkan Abu Bakar dan menjelaskan berbagai sisi positif dari upaya pengumpulan Al-Quran tersebut.

Sampai akhirnya Abu Bakar pun tercerahkan dan bersedia menerima usulan Umar itu.Sang penulis wahyu, Zaid bin Tsabit menceritakan situasi genting tersebut:"Abu Bakar mengirimi aku berita tentang kematian pasukan Islam di Yamamah. Ternyata Umar bin Khaththab sedang bersamanya.Abu Bakar bercerita padaku, Umar datang kepadaku sambil mengatakan,"Sesungguhnya perang Yamamah telah merenggut nyawa para penghafal Al-Quran, aku khawatir akan lebih banyak lagi para penghafal Al-Quran yang meninggal dalam peperangan berikutnya."5

Menurut Ansar Zainuddin, melalui kesaksian sejumlah sahabat yang pernah mendapat pengajaran Al-Qur’an dari Rasulullah saw, dikumpulkan dan disalin kembali oleh Zaid bin Tsabit ra atas instruksi khalifah Abu Bakar. Akhirnya Qur’an terhimpun dalam bentuk mushaf yang dikenal dengan nama Mushaf al-Imam (Mushaf Usman). 

Dari sekian prestasi yang terukir pada masa kekhalifahan Abu Bakar, maka jasa terbesar Abu Bakar yang dapat dinikmati oleh peradaban manusia sekarang adalah usaha pengumpulan Qur’an yang kelak melahirkan mushaf Usmani dan selanjutnya menjadi acuan dasar dalam penyalinan ayat-ayat suci Al-Qur’an hingga menjadi kitab Al-Qur’an yang menjadi pedoman utama kehidupan umat Islam bahkan bagi seluruh umat yang ada di permukaan bumi ini.6

c. Awal Perluasan Wilayah Islam

Perluasan wilayah yang di lakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar merupakan sebagai pionir ke-universalan islam dalam hal perluasan Daulah Islam setelah apa yang dilakukan Rasulullah SAW, dan hal ini ditampakan ketika menaklukan wilayah-wilayah lain di masa permulaan Khulafa’urasyidin, karena tujuannya bukan disandarkan pada ketamakan melainkan, melindungi dakwah, menjamin keamanan dan sebagai sarana menyebar pesan besar yang diemban  kaum Muslimin, yaitu pesan pembebasan umat manusia dan mengarahkan mereka kepada keadilan dan kebenaran.4 

1. Penaklukan Persia

Perang melawan gerakan murtad telah usai. Gerakan murtad juga telah habis. Jazirah Arab telah bersih dari noda dan hanya berisi agama lurus. Abu Bakar mulai mempersiapkan sejumlah penaklukan, dimulai dari Persia. Ia menyiapkan dua pasukan. Pasukan pertama di bawah pimpinan Khalid ibn al-Walid. Saat itu, mereka tengah berada di Yamamah. Melalui sepucuk surat, Abu Bakar memerintahkan mereka untuk memerangi Irak dari arah selatan, dimulai dari daerah Ubullah. Pasukan kedua di bawah pimpinan ‘Iyadh ibn Ghunum. Saat itu mereka berada di desa Nibaj, pertengahan jalan antara Makkah dan Bashrah. Abu Bakar memerintahkan ‘Iyadh untuk menyerbu Irak dari arah timur laut, dari Mushayyakh. Diantaranya, Perang Dzat Salasil, Perang Madzar atau Tsaniy, Penaklukan Hirat (Heerat),Perang Dawmatul Jandal.

2. Penaklukan Romawi

Pada saat kekuasaan abu bakar, Romawi menguasai daerah Suriah dan Palestina. Padahal suriah  dan  Palestina berbatasan langsung dengan kekuasaan islam. Suriah dan  Palestina. Dalam upaya penaklukan itu maka jalan yang harus di tempuh dengan cara memerangi imperium Roawi dengan Perang Yarmuk.  Dalam sejarah perjuangan kaum muslimin menegakkan dan membela al-haq (kebenaran), berjihad di jalan Allah, kita akan dapat menemukan kisah teladan mengenai itsar, sejarah yang begitu indah untuk dipelajari, merupakan suatu kenikmatan tersendiri jika diamalkan. Kisah ini adalah perang Yarmuk, perang yang terjadi antara kaum muslimin melawan pasukan Romawi (Byzantium), negara super power saat itu, berlangsung pada tahun 13 H / 634 M.7

2) Bidang Ekonomi

Menurut Uzwah Paneka, dalam usaha menigkatkan kesejahteraan umat Islam, Abu Bakar melaksanakan berbagai kebijakan ekonomi seperti yang telah dipraktekan Rasulullah SAW. beliau sangat memperhatikan keakuratan penghitungan zakat sehingga, tidak trejadi kelebihan atau kekurangan pembayarannya. Hasil pengumpulan zakat tersebut, dijadikan sebagai pendapatan dan simpanan di baitul mal untuk langsung didistribusikan seluruhnya kepada kaum Muslimin hingga tidak ada yang tersisa.

Seperti halnya Rasulullah, Abu Bakar juga melaksanakan kebijakan pembagian tanah hasil taklukan, sebagian diberikan kepada kaum Muslimin dan sebagian lain tetap menjadi tanggungan Negara. Disamping itu, ia juga mengambil alih tanah-tanah dari orang-orang murtad untuk kemudian dimanfaatkan demi kepentingan Umat Islam secara keseluruhan.

Dalam mendistribusikan harta baitul mal tersebut, Abu Bakar menerapkan prinsip kesamarataan, yakni memberikan jumlah yang sama kepada semua sahabat Rasulullah, dan tidak membeda-bedakan antara sahabat yang terlebi dahulu masuk Isla dengan sahabat yang kemudian, antara hamba dengan yang merdeka, dan antara pria dan wanita. Menurutnya, dalam hal keutamaan beriman, Allha SWT. yang memberikan ganjarannya. Sedangkan, dalam masalah kebutuhan hidup, prinsip kesamaan lebih bai dari pada prinsip keutamaan.

Namun, yang menarik dari kepemimpinan Abu Bakar adalah ketika menjelang wafatnya, Abu Bakar melakukan kebijakan internal yaitu dengan mengemabalikan kekayaan pada Negara karena, melihat kondisi Negara yang belum pulih dari krisis ekonomi. Abu Bakar lebih mementingkan kondisi rakyatnya dari kepentingan individu dan keluarganya. Gaji yang selama masa kekhalifahaannya diambil dari Baitul Mal yang ketika dikalkulasi berjumlah 8000 dirham, mengganti dengan menjual sebagian besar tanah yang dimilikinya dan seluruh hasil penjualannya diberikan untuk pendanaan Negara.2

Referensi

1. Mubarok J. No Title. 2005th ed. (Subadra C, ed.). Bandung: Pustaka Bani Quraisy; 2005.

2. uzwahpaneka_ana. bidang ekonomi abu bakar. 2011. http://uzwahpanekaana.blogspot.co.id/2011/09/perekonomian-pada-masa-abu-bakar-as.html.

3. Purnama Y. biografi Abu bakar assidiq. Muslim.Or.Id. https://muslim.or.id/8725-biografi-abu-bakar-ash-shiddiq.html. Published 2012.

4. Siska Lis Sulistiani. Kebijakan Politik Pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khatab. 2011. http://siskanajwa.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-pemerintahan-abu-bakar-dan-umar.html.

5. Syafiq A. pengumpulan mushaf. Inilah.com. http://mozaik.inilah.com/read/detail/2274365/pengumpulan-al-quran-di-masa-abu-bakar  . Published 2016.

6. Zainuddin A. pembentukan khalifah abu bakar. kumpulan makalah. http://www.kumpulanmakalah.com/2015/10/masa-pemerintahan-abu-bakar-as-shiddiq.html. Published 2016.

7. Pandangai A. perluasan wilayah pada masa abu bakar. blogspot.co.id. https://andipandangai.blogspot.co.id/2016/01/perluasan-wilayah-islam-pada-masa.html. Published 2016.

2 comments for " Belajar dari Sejarah Abu Bakar Assidiq RA."

  1. terima kasih infonya sangat membantu.,.,.salam
    dktour jogja

    ReplyDelete
  2. Sama-sama
    Waalaikum Salam Warrahmatulloh

    ReplyDelete

Komentar