Petani Brebes Semakin Menjerit Menghadapi Ganasnya Hama Ulat, disertai Harga Bawang Merah yang Anjlok Drastis


Bawang merah merupakan salah satu ciri khas Kabupaten Brebes. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Brebes memperoleh penghidupannya dari usaha budidaya bawang merah.
Akhir-akhir ini banyak petani yang hampir prustasi menghadapi hama ulat yang kian mengganas. Berbagai upaya telah mereka lakukan demi dapat berperang untuk mengalahkan serangan hama ulat yang bertubi-tubi merusak tanaman bawang merahnya.


Beberapa petani mengaku selain menghabiskan banyak uang untuk membeli pestisida, merekapun rela merogoh kocak lebih dalam lagi, untuk mempekerjakan buruh  demi memperbanyak pasukan untuk berperang dan membunuh hama pengganggu tersebut.







“Biasanya daun jati banyak yang terkena hama ulat ini, namun sekarang daun jati justru pada sehat semua. Kemungkinan besar semua ulat tersebut menyerang daun bawang merah sehingga meski berbagai upaya dilakukan, ulat yang menyerang bawang merah tersebut dari hari kehari selalu saja bertambah,” kata Maktub petani bawang merah asal Desa Kamal Larangan Brebes.

Dirinya menambahkan bahwa hama ulat ini menyerang sebagian besar tanaman bawang merah diwilayahnya. Banyak para petani yang mengeluh , hingga akhirnya mereka putus asa. Tak jarang selain meningkatkan jumlah dan jenis pestisida, petani juga harus mengeluarkan uang ratusan ribu perharinya demi mempekerjakan beberapa orang untuk mengambil ulat dan telur-telurnya dari tanaman bawang mereka.

“Setelah semua usaha dilakukan, dan menghabiskan banyak materi akhirnya sebagian petani banyak yang menyerah dan membiarkan begitu saja tanaman bawang merahnya. Beberapa petani lebih memilih berdiam diri di rumah, karena kalau melihat tanaman bawangnya hanya akan membebani fikiran.” pungkasnya.

Hal senada disampaikan Tasronah dirinya mengaku setiap hari bekerja hanya untuk mengambil hama ulat di kebunnya.

“ Dari satu bedengan saja, daun yang berisi ulat bisa lebih dari satu ember . Padahal hampir setiap hari dimulai dari pagi sampai menjelang maghrib saya bekerja untuk menyingkirkan hama tersebut dari tanaman bawang yang sudah 40 hari saya tanam tersebut,” katanya.

Harga Bawang Merah tak Sebanding dengan Modal dan Kerja Keras Para Petani.

Seorang petani mengaku telah menjual bawang merah yang baru dipanennya ke pasar, namun harganya sangat jauh dari kata untung yaitu hanya Rp.4.000,-/Kgnya.
Menurutnya harga tersebut sangat tidak seimbang dengan kerja keras para petani, apalagi kalau ditambah dengan modal yang dikeluarkan. 

Coba kita bayangkan, di Desa penulis para pekerja yang menggarap lahan untuk ditanami bawang merah dibayar para petani RP.100.000,00/ harinya untuk satu orang. Biaya tersebut belum dihitung dengan biaya makan, snack dan rokok yang disediakan para petani untuk para pekerja yang menggarap tanahnya tersebut.

Semakin luas tanah yang digarap biasanya para pekerjanyapun akan semakin banyak, bahkan tak jarang pekerjanyapun bisa dari luar wilayah desa atau kecamatan. Dalam sehari umumnya para pekerja yang menggarap tanah petani minimal berjumlah dua orang keatas. Biaya yang dikeluarkan petani untuk dapat membentuk tanah menjadi siap ditanami bawang merah tentu bukan jumlah yang sedikit.

Selain untuk menggarap tanah, biaya besar lain yang harus dikeluarkan petani adalah dalam hal pembelian bibit bawang yang akan ditanam. Meski mereka petani bawang merah, namun untuk mempertahankan kualitas mereka lebih memilih membeli bibit baru untuk ditanam, meski harga bibit tersebut relative lebih mahal dari harga biasanya, namun dengan alasan kualitas mereka tak memperdulikan hal tersebut.

Setelah ditanam, selain membeli pupuk kandang merekapun membeli beberapa Kwintal berbagai macam jenis pupuk dari toko pupuk, semua mereka lakukan agar tanaman bawangnya subur.
Sekitar usia sepuluh hari tanaman bawang mereka, maka saat itulah daun muda mulai bermunculan dari tanamannya, pertanda mereka harus segera mempersiapkan dana untuk membeli berbagai macam jenis pestisida untuk menjaga daun tersebut dari hama pengganggu daun.

Selain memikul berat tangki pestisida merekapun tak jarang harus berjalan dalam kubangan lumpur yang bisa sedalam lutut dalam kegiatan menyemprot pestisida tersebut. Bahkan lebih dari itu selain tenaga mereka yang terkuras, pikiran merekapun banyak yang terporsir untuk memikirkan dana untuk dapat mengurus tanaman bawangnya.

Tak sedikit para petani yang mengcopy KTP, KK dan mencetak Photo mereka ke tempat penulis. Ketika penulis bertanya, mereka semua menjelaskan bahwa itu mereka lakukan untuk melengkapi berkas dalam prosedur peminjaman uang ke sebuah koprasi, dan uangnya rata-rata mereka gunakan untuk mengurus bawang mereka. Tak jarang pula ada yang sampai menggadaikan BPKB kendaraan yang mereka miliki, atau bahkan sertifikat tanahnya hanya demi mendapatkan uang untuk modal mengurus tanaman bawang mereka.

Kini setelah perjuangan mereka di fokuskan semua untuk tanaman bawang merahnya, selain dipusingkan dengan rusaknya tanaman mereka oleh hama, merekapun dibuat stress dengan harga bawang merah yang turun anjlok.

Harga bawang tersebut sungguh sangat tidak sebanding dengan modal yang mereka keluarkan, apalagi jika dibandingkan dengan kerja keras mereka dalam menguurus tanamannya.

Salah satu petani ibu Sur mengaku kalau suaminya senantiasa bekerja banting tulang demi mengurus tanaman bawang merahnya. Bahkan tak jarang ketika malam haripun dia mendapati suaminya tidak ada di rumah karena lebih memilih mengurus tanaman bawangnya. Kini setelah tanaman bawang merahnya dipanen, dia hanya bisa mengelus dada dan pasrah pada keadaan.



“Dari pada dijual dengan harga yang sangat murah, lebih baik bawangnya disimpan saja. Tadinya musim depan akan menanam bawang merah lagi, namun karena harganya seperti ini, sepertinya lebih baik tanah yang ada ditanami jagung saja,” terangnya.

Penomena harga murah ini sangat mengganggu ketentraman hati dan fikiran para petani. Bahkan tak jarang selain harus memikirkan nasib buruk mereka terkait hasil tanaman bawangnya yang merugi, merekapun harus dipusingkan untuk dapat mengembalikan modal yang mereka pinjam untuk mengurus tanaman  bawang mereka selama ini.

Beberapa ibu-ibupun mengungkapkan kekesalan mereka pada presiden Joko Widodo. Mereka hanya bisa menggerutu dengan sesamanya, karena mereka sangat berharap besar pada presiden yang mereka pilih karena kelihatannya merakyat tersebut.

Kekecewaan mereka semakin menjadi jika mereka ingat presiden dengan panggilan akrab Jokowi tersebut, dulu pernah berkunjung langsung ke Kecamatan Larangan Brebes, bahkan berdiskusi langsung dengan beberapa petani di kebunnya. Menurut mereka dari hasil pertemuan tersebut,seharusnya presiden Jokowi lebih bisa mengerti petani bawang merah dibanding presiden-presiden sebelumnya.

Mereka berharap presiden segera mengakhiri penderitaan mereka, dengan meningkatkan harga bawang merah. Menurut mereka harga bawang merah saat ini sangat tidak manusiawi.
“Mending kita tidak usah berkebun bawang merah lagi jika harganya serendah ini, suruh mereka (Pemerintah,pen) menanam sendiri bawang merah untuk memenuhi kebutuhan negeri ini, supaya mereka tahu bagaimana cape dan susahnya mengurus bawang merah itu,” ujar salah seorang ibu-ibu.

(DETATANG Sang Anak Bawang)



0 Response to "Petani Brebes Semakin Menjerit Menghadapi Ganasnya Hama Ulat, disertai Harga Bawang Merah yang Anjlok Drastis"

Post a Comment

Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel